Kaitan antara Gaya Belajar, Kemandirian Belajar, dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP dalam Pelajaran Matematika

Rostina Sundayana

Abstract


ABSTRAK

Pada umumnya kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP masih rendah. Guru sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar, menjadi faktor utama yang menjadi penyebab masalah tersebut terjadi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah menciptakan suasana belajar yang cocok dengan jenis gaya belajar siswa (auditorial, visual, ataupun kinestetik), sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Tarogong Kidul kelas IX pada tahun ajaran 2015-2016 semester ganjil. Metode penelitian yang digunakan berupa penelitian eksplanatif komparatif-asosatif. Dari hasil penelitian terungkap bahwa: 1) Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematik, antar siswa ditinjau dari jenis gaya belajarnya. 2) Tidak terdapat perbedaan tingkat kemandirian belajar matematika antar siswa ditinjau dari gaya belajarnya. 3) Kemandirian belajar siswa mempengaruhi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap siswa, baik yang mempunyai gaya belajar auditorial, visual, ataupun kinestetik mempunyai tingkat kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematik yang sama. Selain itu, diketahui pula bahwa semakin tinggi tingkat kemandirian belajar siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.


ABSTRACT

In general, independent learning and problem solving ability mathematics junior high school students is still low. Teachers practice teaching and learning activities, the main factor that causes the problem from happening. One of the efforts that teachers can do is to create a learning environment that matches the kind of student learning styles (auditory, visual, or kinesthetic), so hopefully learning objectives can be achieved effectively. This research was conducted in Tarogong South Junior High School 2 class IX in odd semester of school year 2015-2016. The method used in the form of comparative research explanation-associative. From the results of the study revealed that: 1) There is no difference in mathematical problem solving skills, among students in terms of the type of learning style. 2) There is no difference in the level of independence of learning mathematics among students in terms of learning styles. 3) Independence of student learning affects the level of students' mathematical problem solving ability. From the results of these studies indicate that each student, both of which have auditory learning style, visual, or kinesthetic have this level of independent learning and problem solving skills the same mathematical. In addition, it is also known that the higher the level of independence of student learning, the higher the students' mathematical problem solving ability.

Keywords


Gaya Belajar, Kemandirian Belajar, Pemecahan Masalah, Learning style, independent learning, problem solving

Full Text:

PDF

References


Babari (2002). Relasi dengan Sesama. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Branca, N. A. (1980). Problem solving as a goal, process, and basic skill.Dalam S. Krulik& R. E. Reys. (Eds.),Problem Solving in School Mathematics (pp. 3-8). Reston, VA:NCTM, Inc

BSNP (2006). Standar Isi: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTs, Jakarta: BSNP.

Dahar (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

De Porter, Bobbi, dan Hernacki, Mik. (2007). Quantum Learning. Diterjemahkan oleh Alwiyah Adurrahman. Bandung: Kaifa PT. Mizan Pustaka.

Deming, W. Edwards. (1994). Guide to Quality Control. Cambirdge: assachussetts Institute Of Technology

Gani (2007). Pengaruh Pembelajaran Metode Inkuiri Model Alberta terhadap Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi. UPI: Tidak diterbitkan.

Hudojo (2001). Teori Belajar dalam Proses Belajar-Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Izzati, N. (2012). Komunikasi Matematik dan Pendidikan Matematika Realistik. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika. Yogyakarta:UNY.27 Nov 2010. http://bundaiza.files.wordpress.com/2012/12/ komunikasi_matematik_dan_pmr-prosiding.pdf [26 Desember 2015]

Johnson (2009). Contextual Teaching & Learning, Menjadikan Kegiatan Belajar-mengajar Mengasyikkan dan bermakna, Terj. Ibnu Setiawan. Bandung: Mizan Learning Center (MLC).

Knowles, M. (1989). Self Directed Learning. Chicago : Follet Publishing Company.

Merriam, S. B., Caffarella, R. S., & Baumgartner, L. M. (1999). Learning in adulthood: a comprehensive guide . San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.

Mocker, D. W. and Spear, G. E. (1984). Lifelong Learning: Formal, Non-formal, Informal and Self-directed, Columbus, Ohio: ERIC.

Nasution. (2003). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Pannen, Paulina dkk. (2000). Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Polya, G. (1985). How to Solve It. A New Aspect of Mathematical Method. Second Edition. New Jersey: Princeton University Press.

Sugiyono (2006). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tahar dan Enceng (2003). Hubungan Kemandirian Belajar Dan Hasil Belajar Pada Pendidikan Jarak Jauh. Universitas Terbuka. http://simpen.lppm.ut.ac.id/ htmpublikasi/ tahar.pdf [24 Desember 20015]

Thoha. (1996). Ciri-ciri Kemandirian Belajar. http://Subliyanto.blogspot. com/2011/05/kemandirian-belajar.html . [10 September 2015].

Wulandari, R. (2011). Hubungan gaya belajar dengan prestasi belajar mahasiswa semester VI Program Studi D IV Kebidanan Universitas Sebelas Maret. Jurnal KesMaDaSka,Vol 2 No.1, Januari 2011(45-52) http://download.portalgaruda.org/ article.php?article=119635&val=5479&title=Hubungan%20gaya%20belajar%20dengan%20prestasi%20belajar%20mahasiswa%20semester%20IV%20Kebidanan%20Universitas%20Sebelas%20Maret [24 Desember 20015]


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Mosharafa Vol. 5, No. 2, Mei 2016